Kesehatan Mental

 



7 Teori Kepribadian Sehat Menurut Para Ahli




1. Gordon William Allport

Menurut Allport (dalam Baihaqi,2008:102) pekerjaan dan tanggung jawab dapat memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin seseorang mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan-keterampilan.


Allport telah menawarkan 49 definisi mengenai kepribadian, pada tahun 1937, kemudian ia menawarkan defininya yang ke-50, “organisasi dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan caranya yang khas untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Allport, 1937, hlm. 48). Organisasi dinamis disini mengimplikasikan integrasi atau saling keterkaitan dari beragam aspek kepribadian. Allport memberikan gagasan bahwa manusia adalah produk dan proses, manusia mempunyai struktur terorganisasi, sementara pada saat yang bersamaan, mereka memproses kemampuan untuk berubah (Feist & Feist 2013).


Allport (dalam Schultz, 1995:25) mengatakan bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang atau hanya memadai. Mereka didorong untuk melakukan sedapat mungkin, untuk mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha memuaskan motif-motif mereka.


2. Carl Ransom Rogers 

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.


“Kehidupan yang baik, dari sudut pandang pengalaman saya, adalah proses pergerakan yang melalui arah yang dipilih organisme manusia jika secara internal bebas bergerak ke arah mana pun, dan sifat umum dari arah yang dipilih ini tampak memiliki persamaan”. (Rogers, 2012: 289)


Berdasarkan pengalaman klinisnya, Rogers sampai pada kesimpulan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat sebuah inti yang secara esensial memiliki tujuan, bergerak maju, konstruktif, realistis dan dapat diandalkan. Dia lebih melihat manusia sebagai kekuatan energi aktif yang berorientasi pada tujuan-tujuan masa depan bagi dirinya daripada memandang manusia sebagai makhluk ciptaan yang dipaksa oleh kekuatan yang berada di luar dirinya. Rogers beranggapan bahwa kekuatan-kekuatan yang memimpin perilaku manusia ada di dalam diri manusia itu sendiri dan apabila kondisi-kondisi sosial tidak mengubahnya kekuatan-kekuatan tersebut akan mengarahkan manusia menuju perkembangan yang positif. Rogers percaya bahwa manusia mempunyai kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasi diri yang apabila dibebaskan menyebabkan manusia berusaha untuk kesempurnaan dirinya.


3. Erich Fromm

Fromm berpendapat bahwa kebutuhan bersifat murni manusiawi dan murni obyektif. Kebutuhan ini tidak terdapat pada hewan dan tidak diturunkan dari pengamalan tentang apa yang dikehendaki manusia. Kebutuhan ini bukan merupakan produk masyarakat melainkan sudah berakar dalam sifat alami manusia sendiri melalui revolusi. Lalu, apakah hubungan masyarakat dengan existensi manusia? Fromm percaya bahwa manifestasi khusus dari kebutuhan ini ditentukan oleh tatanan sosial tempat ia hidup. Kepribadian manusia berkembang sesuai dengan kesempatan yang diberikan oleh masyarakat tertentu kepada dirinya. Dalam masyarakat kapitalistik misalnya, orang akan merasa memiliki jati diri jika ia adalah orang kaya atau seorang akan merasa memiliki akar jika ia menduduki jabatan yang tangguh dan diandalkan dalam satu perusahaan raksasa. Dengan kata lain, penyesuaian manusia terhadap masyarakat biasanya merupakan kompromi antara kebutuhan dari dalam dan tuntutan dati luar. Dia mengembangkan karakter sosial sesuai permintaan masyarakat (Hall, Lindzey, 1967, hal 127-130).


4. Abraham Harold Maslow

Menurut Maslow tingkah laku manusia ditentukan oleh kecenderungan individu untuk mencapai tujuan agar kehidupan si individu lebih berbahagia dan sekaligus memuaskan (Minderope, 2011: 280). Berdasarkan pada keyakinan tersebut, Maslow membangun sebuah teori tentang kebutuhan yang kemudian dikenal dengan teori “Hirarki Kebutuhan” (Hierarchy of Need). Dalam teori hirarki kebutuhan ini, Maslow menyebutkan lima kebutuhan manusia yang tersusun secara hirarki. Disebut hirarki, karena pemenuhan kelima kebutuhan tersebut didasarkan atas prioritas utama.


Maslow berasumsi bahwa manusia sejatinya merupakan makhluk yang baik, sehingga manusia memiliki hak untuk merealisasikan jati dirinya agar mencapai aktualisasi diri. Manusia yang berupaya memenuhi dan mengekspresikan potensi dan bakatnya kerap kali terhambat oleh kondisi masyarakat yang menolaknya. Keadaan semacam ini dapat menyebabkan seseorang mengalami problem kejiwaan dan ketimpangan perilaku (Krech, dalam Minderop, 2011: 48).


Menurut Maslow tingkah laku manusia lebih ditentukan oleh kecenderungan individu untuk mencapai tujuan agar kehidupan si individu lebih berbahagia dan sekaligus memuaskan. Maslow (dalam Minderop, 2011: 49) menyatakan bahwa setiap manusia adalah satu kepribadian secara keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi, yang menunjukkan eksistensi manusia memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, menentukan sendiri nasib atau wujud dari keberadaannya, serta bertanggung jawab atas pilihan dan keberadaannya itu.


5. Carl Gustav Jung

Jung menekankan pentingnya menafsir mimpi sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan psikis manusia. Mimpi merupakan salah satu aktivitas jiwa yang oleh orang dulu dianggap mengandung banyak simbol untuk menafsir gejala‐gejala kehidupan yang akan datang (Jung, 1986:31). 


Dengan mengambil perspektif Jung untuk analisis organisasi, organisasi rasional formal yang kita kenal selama ini adalah terlalu rasional dan terlalu menonjolkan efisiensi. Artinya perilaku kita di dalam organisasi termasuk faktor‐faktor seperti stres, ketakutan, kebencian dalam interaksi antar individu, tidak memiliki tempat sama sekali.


Secara umum teori ini memang bisa memberikan kontribusi dalam penerapan ide‐ide pembaharuan dalam kompleksitas kehidupan organisasi, terutama pada isu bagaimana memahami kehidupan organisasi sebagai refleksi dari proses konstruksi sosial yang berbasis kekuasaan (power-Based reality construction) dan bagaimana individu‐individu mengalami jebakan (trapped) oleh ideologi atau kepentingan organisasi yang dipertahankan. Namun demikian ketika berhadapan pada realitas yang senyatanya dalam masyarakat atau organisasi (terutama) yang dikotomis vertikal, dimana  ʹkekuasaanʹ dan status‐quo dikemas sangat rapi dan ingin dipertahankan, teori ini tidak selalu mampu memberikan solusi yang mudah yang dilakukan.


6. Victor Emil Frank

Konsep Dasar Psikologi Frankl

•     Hidup memiliki makna dalam semua keadaan

•     Motivasi utama untuk hidup yang akan kita menemukan makna dalam hidup.

•     Kebebasan untuk menemukan makna.


Frankl mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan adanya satu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi faktor realitas atau menyadari apa yang bisa dilakukan dalam situasi tertentu. Frankl berpendapat bahwa secara hakiki manusia mampu menemukan kebermaknaan hidup melalui trandensi diri. Salah satunya dengan mengambil ajaran-ajaran agama yang diterapkan pada sebuah kehidupan. Menjadi sehat secara psikologis adalah bergerak ke luar fokus pada diri, kemudian mengatasinya, menyerapinya dalam arti dan tujuan seseorang. Maka dengan demikian ‘diri’ akan dipenuhi dan diaktualisasikan secara spontan dan wajar.



7. Friedrich Salomon Perls

Pendekatan Gestalt adalah terapi humanistik eksistensial yang berlandaskan premis, bahwa individu harus menemukan caranya sendiri dalam hidup dan menerima tanggung jawab pribadi jika individu ingin mencapai kedewasaan. Asumsi ini didasarkan pada bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.

Menurut Perls kebanyakan orang akan cenderung bergantung kepada masa lampau untuk membenarkan ketidaksediaan dan ketidakmampuannya memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Tujuan utama konseling Gestalt adalah meningkatkan proses pertumbuhan klien dan membantu klien mengembangkan potensi manusiawinya. Fokus utama dalam konseling Gestalt adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri(selft-support). Konsep utama pendekatan Gestalt adalah here and now dan unfinished business yang tercakup didalamnya adalah emosi-emosi, peristiwa-peristiwa, ingatan-ingatan (memories), yang terhambat dinyatakan oleh individu yang bersangkutan.




Daftar Pustaka


Amalia, L. (2016). Menjelajahi Diri dengan Teori Kepribadian Carl R. Rogers. Muaddib: Studi Kependidikan dan Keislaman, 3(1), 87-99 

Diakses pada 25 November 2020 pukul 23:22 WITA


Hasanah, K. (2016). TEORI KONSELING (SUATU PENDEKATAN KONSELING GESTALT). Al-Tazkiah: Jurnal Bimbingan dan Konseling Islam, 5(2), 108-123.

Diakses pada 25 November 2020 pukul 00:21


Hikma, N. (2015). Aspek Psikologis Tokoh Utama Dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara (Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow). Jurnal Humanika, 3(15).Diakses pada 25 November 2020 pukul 23:39

Muhni, D. A. I. (1997). Manusia dan Kepribadiannya (Tinjauan Filsafati). Jurnal Filsafat, 1(1), 19-29.

Diakses pada 25 November 2020 pukul 23:11


Widaningrum, A. (2006). Carl Gustav Jung, Teori Transformasi dan Relevansinya pada Organisasi Birokrasi. Buletin Psikologi, 14(2)

Diakses pada 25 November 2020 pukul 23:57 WITA


Yoanita, I. (2011). KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA” KETIKA CINTA BERTASBIH” EPISODE1KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (BERDASARKAN TEORI GOLDON ALLPORT). Jurnal Artikulasi, 12, 2.

Diakses pada 25 November 2020 pukul 23:05 WITA


https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/download/31644/19178


http://ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA/article/download/596/pdf#:~:text=Salah%20satu%20teori%20pada%20psikologi,%2C%20memelihara%2C%20dan%20meningkatkan%20dirinya.


http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jib/article/viewFile/1258/1347_umm_scientific_journal.pdf





Nama    : Gideon Petra Malia


Nim       : 20310410066


Matkul : Psikologi (A)


Dosen   : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A


Rangkuman ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata kuliah Kesehatan Mental Prodi Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.


Komentar